Gadis manis berusia 19 tahun,feminin, smart, confident, dewasa. Anak sulung dari 2 bersaudara, lahir di Parepare 25 Juni 1992. Masa sekolahnya dilewatkan dibanyak daerah, SD di Riau, SMP pindah ke Makassar, SMA di Bandung , kuliah kembali di Parepare.
Andrian Risandy (Andry)
Cowok paling tajir sePGSD. Banyak digandrungi gadis-gadis, lumayan badung meskipun hatinya baik. Kallolo asli Parepare lahir 15 Maret 19 tahun yang lalu.
Tita Praditya (Tita)
Adik Livia, lahir di Batam, 18 Juni 1994. Meskipun begitu, Tita tinggal di Parepare sejak SD. Ia tidak pernah ikut pindah karena Tita memang lebih dekat dengan neneknya. Orangnya cuek dan keras hati.
Widyastira (Tiera)
Pacarnya Andry (19 tahun). Cantik, jutek, angkuh, benci setengah mati sama Livia. Asli Pinrang, lahir 5 Mei 1992.
Arifah Putri (Riefa)
Temen baiknya Tiera (19 tahun). Baik, agak dong-dong, gampang percaya, lalod. Dekat sama Tiera karena mereka berdua memang sahabatan sejak SMA, Riefa lahir di Pinrang, 27 Januari 1992.
Ichwan Ibrahim (Wawan)
Sahabatnya Andry (19 tahun). Sama-sama anak gaul, sama-sama punya ortu tajir adalah 2 kesamaan yang membuat Andry dan Wawan dekat. Wawan ini anaknya sebenernya baik, meskipun dia playboy dan tipikal mahasiswa apatis penganut hedonisme. Doi orang Parepare asli, lahir 3 November 1992.
Nurul Zahra (Bunda)
Bundanya Livia, usianya baru 38 tahun. Wanita karier yang bijaksana, tegar, dan sangat anggun. Sangat menyayangi Livia dan Tita. Single parent sejak ayah Livia kabur meninggalkannya 4 tahun silam.
__________________________________________________
Di PGSD, Livia bertemu dengan Andry, sosok idola kampus yang digandrungi para wanita. Andry yang tergolong playboy berencana mendekati Livia sebagai bahan taruhannya dengan Wawan. Meskipun sulit, Andry akhirnya mampu mendekati Livia. Hal ini membuat Tiera marah besar, Tiera dan Riefa kemudian menyusun rencana untuk mempermalukan Livia. Mereka mulai menyelidiki kehidupan Livia, dan mendapati kenyataan yang mengejutkan, Livia ternyata mengidap AIDS. Karena dendam, Tiera kemudian menyebarkan berita itu dikampus sehingga Livia kembali dicemooh dan dipandang rendah oleh teman-temannya di kampus termasuk oleh Andry. Livia yang tidak yg tahu-menahu tentang penyakitnya ini merasa shock mendengar berita yang beredar di kampus. Walhasil Bunda dan Titalah yang kelimpungan menjelaskan duduk persoalannya pada Livia. Usut punya usut, ternyata penyakit AIDS yg diderita oleh Livia disebabkan oleh keteledoran seorang perawat yang menggunakan jarum suntik bekas pada Livia yang saat itu sedang dirawat di rumah sakit karena penyakit demam berdarah. Meskipun pada awalnya shock, Livia mencoba tabah, iapun kembali pada pribadinya yang dulu, menutup diri.
Andry yang pada akhirnya benar-benar jatuh cinta pada Livia memang pada awalnya menjauhi Livia. Namun pada akhirnya dengan berbekal info mengenai penderita AIDS, Andry akhirnya yakin bahwa penyakit yang diderita Livia bukanlah penyakit menular meskipun ia sadar umur Livia sangat singkat. Andrypun kembali mendekati Livia dengan bantuan Wawan, namun sikap Livia yang menutup diri dan sikap overprotective yang ditunjukkan Tita pada Livia menyulitkan mereka untuk berkomunikasi. Andry mulai putus asa, namun Wawan menyemangatinya. Dengan sisa-sisa semangatnya Andry memutuskan untuk berbicara dengan ibu Livia. Bunda yang tahu cerita mereka berdua tersentuh mendengar pengakuan Andry.
Bundapun membujuk Livia untuk memaafkan Andry. Pendek cerita, Andry dan Livia kembali berbaikan. Hubunganpun kembali mereka bina, hari-hari Livia kini mulai ceria kembali. Hingga suatu hari Livia pergi tanpa mengabari Andry, ia seakan menghilang, begitupun dengan Bunda dan Tita. Andry terpuruk dan mulai mencoba melupakan Livia. Iapun kembali berpacaran dengan Tiera.
Hari-hari Andrypun kembali seperti biasanya, ia bahkan sudah tidak lagi memusingkan soal Livia. Sampai suatu hari Andry dikejutkan oleh kedatangan Tita yang mengabarkan kalau ternyata Livia sudah meninggal. Andry lalu diajak oleh Tita ke makam Livia, di sana Tita kemudian memberikan sebuah surat untuk Andry dari Livia. Surat yang ditulis Livia sebelum kematiannya, sebuah penjelasan mengapa ia pergi tanpa mengabari Andry sebelumnya, sebuah surat yang berisikan pengakuan Livia mengenai perasaannya, dan keinginan terakhir Livia untuk Andry.
The End....




